indonesia tanpa syiah

Media Membela Syiah

Tanya:
Mengapa media lebih terkesan membela aliran syiah?
Dari: Insan Muslim, Jawa Timur
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Semenjak kasus Suriah dan sampang, kaum muslimin banyak mendiskusikan masalah syiah. Keadaan menjadi semakin keruh ketika media hadir dan turut memberikan opini publik. Beberapa berita dan forum dialog antara kaum muslimin dan syiah yang disiarkan media, sangat kentara unsur permainannya dan sengaja dikondisikan sebelumnya. Semuanya bermuara pada pembentukan satu titik opini; memberikan kesan baik untuk syiah, dan menampakkan citra buruk kaum muslimin ahlus sunah wal jamaah.
Dalam kasus Suriah misalnya, salah satu stasiun televisi dengan logo warna merah mengesankan bahwa pelaku pengeboman di pemukiman penduduk adalah mujahidin. Ketika menyimak berita ini, kontan rekan saya yang menjadi relawan di Suriah menyebutnya dusta. Tidak ada mujahidin yang menembakkan pelurunya ke arah pemukiman penduduk. Semua pengeboman itu adalah ulah tentara Basyar. Termasuk penembakan yang diarahkan ke masjid-masjid kaum muslimin. Karena kebencian syiah terhadap kaum muslimin dan tempat peribadatan mereka.

Suriah, Libya, & Mesir

Anda bisa perhatikan kasus penggulingan Khadafi di Libya dan Husni Mubarok di Mesir, media terkesan lebih membela rakyat dan mendukung perjuangan rakyat untuk menggulingkan dua pemimpin diktator itu. Media menyebut rakyat sebagai pejuang oposisi. Satu gelar yang netral. Padahal kita tidak pernah mendengar ada pembantaian masal terhadap rakyat yang menewaskan puluhan ribu orang karena ulah Khadafi atau Husni Mubarok.
Ini berbeda dengan kasus Suriah. Media-media yang ‘keracunan Iran’ sangat jelas memihak kepada Basyar. Menyebut mujahidin dengan kelompok pemberontak, dan berusaha menyudutkan posisi kaum muslimin Suriah. Padahal kelakuan Basyar dan hizbolah telah memakan korban sekitar 80.033 jiwa menurut data yang tercatat, sebagaimana laporan syrian revolution martyr database (http://syrianshuhada.com/). Tentu saja jumlah korban yang tidak tercatat, jauh lebih banyak.
Apa kepentingan mereka terhadap presiden Basyar? Bukankah dia telah melakukan kejahatan kemanusiaan besar-besaran? Dengan alasan apa mereka berupaya meredam semangat kaum muslimin untuk melawan Basyar? Jawabannya satu: karena Basyar dan bala tentaranya beragama Syiah. Membela Basyar adalah membela entitas syiah di dunia.
Inilah bukti nyata kemunafikan media syiah,
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
Apakah kamu tidak memperhatikan sikap orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti Kami akan membantu kamu.” dan Allah menyaksikan bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. (QS. Al-Hasyr: 11).

Media Pendusta

Opini publik, opini masyarakat, itulah sasaran untama media. Bagaimana mereka bisa mengendalikan opini masyarakat. Karena dengan opini, orang akan sangat mudah dikendalikan ideologinya. Untuk itu, satu prinsip yang perlu anda beri garis sangat tebal, bahwa berita BUKAN realita. Berita adalah ulasan realita yang ditunggangi opini dan ideologi.
Sayangnya mereka berada di pihak mayoritas. Mereka terlahir dari sistem liberal, dan berkembang bersama ideologi liberal. Memihak kepada kelompok yang bertentangan dengan syariat islam. Semakin jauh dari syariat islam, semakin layak untuk didukung dan dibela. Karena itulah, mereka lebih memihak kepada syiah, atas nama pembelaan kepada minoritas tertindas. Keterangan selengkapnya bisa anda pelajari: Mengapa JIL Membela Syiah?
Namun sayangnya, sebagian besar masyarakat sudah sangat gandrung dengan berita media-media yang tidak bertanggung jawab itu. Terutama mereka yang masih enggan untuk memulai belajar agama dengan cara yang benar. Barangkali realita ini merupakan pembenaran terhadap sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana ditunjukkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan keadaan manusia di akhir zaman,
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: ” السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ “
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh penipuan. Pendusta dianggap benar, sementara orang yang jujur dianggap dusta. Pengkhianat diberi amanat, sedangkan orang amanah dianggap pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah angkat bicara.” Ada yang bertanya, “Apa itu Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh (masalah agama) yang turut campur dalam urusan masyarakat.” (HR. Ahmad 7912, Ibnu Majah 4036, Abu Ya’la al-Mushili dalam musnadnya 3715, dan dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth).

Peringatan Agar tidak Mudah Membenarkan Berita

Catatan berikutnya yang perlu kita perhatikan terkait media yang berkembang di sekitar kita, hampir semua wartawan, mereka bergelimang dengan dosa dan maksiat. Anda bisa perhatikan, hampir semua stasiun televisi swasta tidak lepas dari yang namanya sex advertising. Presenter yang sedang menyampaikan berita misalnya, tidak pernah kita jumpai presenter wanita memakai busana muslimah yang menutup aurat, selain momen puasa atau lebaran. Artinya, mereka melakukan perbuatan maksiat secara terang-terangan. SOP penyampaian berita dibuat sebisa mungkin jauh dari syariat islam. Sehingga kondisi maksiat menjadi ’gawan bayi’ dalam dunia broadcasting yang berkembang di tempat kita.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa sejatinya mereka adalah orang-orang fasik. Penyiar berita dengan penampilan mengumbar aurat adalah orang fasik. Bahkan tanpa malu mereka melakukan kefasikannya di depan umum.
Allah mengingatkan, agar berita yang bersumber dari model manusia semacam ini, tidak diterima mentah-mentah, namun perlu dilakukan tabayyun, upaya mencari bukti kebenaran berita yang disampaikan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Terlebih, hampir semua berita, terutama yang terkait konflik di tempat kita, sangat sarat dengan tendensi ideologi dan opini. Karena itu, menelan mentah-mentah sebuah informasi dari media massa adalah sebuah kesalahan besar, sehingga terjadilah seperti yang Allah firmankan, ’menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu’.

Sikap yang Tepat

Semua realita ini cukup menjadi dasar untuk mengelompokkan berbagai berita di media massa tentang syiah dan ahlus sunah sebagai informasi sampah. Anda cukup mendengarkannya hanya sebagai hiburan, selanjutnya anda tidak perlu banyak menghiraukannya, kecuali jika anda ingin menjadi korban penipuan dan kedustaan mereka. Kedepankan sikap waspada dan tidak mudah percaya, karena kehadiran media liberal telah mewarnai tahun-tahun penuh penipuan.
Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari makar semua musuh islam. Amin
Allahu a’lam
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembinawww.KonsultasiSyariah.com)
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: